Cekfakta.info,Jakarta, Selasa 5 Mei 2026 —Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan tajam hingga menyentuh angka Rp17.433 per dolar AS. Kondisi ini menjadi salah satu titik terburuk dalam sejarah nilai tukar Indonesia dan dinilai sebagai sinyal serius atas rapuhnya fondasi ekonomi nasional di tengah tekanan global serta minimnya respons strategis pemerintah.
Pelemahan rupiah tidak hanya menjadi persoalan pasar keuangan, tetapi juga memicu efek domino yang langsung dirasakan masyarakat. Harga barang impor melonjak, biaya produksi industri meningkat, dan inflasi semakin menekan daya beli rakyat. Di sektor energi, kenaikan biaya impor migas berpotensi mendorong naiknya harga BBM, sementara pelaku UMKM semakin terhimpit oleh biaya operasional yang membengkak dan lemahnya pasar domestik.
Ketua BEM PTNU Se-Nusantara, Muhammad Ikhsanurrizqi, menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa lagi ditutupi dengan narasi optimisme semata. Ia menilai pelemahan rupiah mencerminkan kegagalan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Anjloknya rupiah hingga Rp17.433 per dolar AS adalah alarm keras yang tidak boleh diabaikan. Ini bukan sekadar dampak global, tetapi juga cerminan lemahnya ketahanan ekonomi nasional dan lambannya respons kebijakan. Rakyat hari ini dipaksa menanggung beban yang seharusnya bisa diantisipasi.”
Menurutnya, dampak paling besar dirasakan masyarakat kecil yang kini menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, hingga layanan kesehatan yang semakin sulit dijangkau.
“Ketika rupiah melemah, yang pertama kali terpukul adalah rakyat kecil. Harga naik, penghasilan stagnan, dan negara seolah tidak hadir dengan solusi konkret. Ini adalah bentuk ketidakadilan ekonomi yang nyata.”
BEM PTNU Se-Nusantara juga mendesak pemerintah untuk tidak lagi mengambil pendekatan reaktif dan segera menerapkan langkah luar biasa (extraordinary measures) guna menyelamatkan stabilitas ekonomi nasional.
“Kami menuntut pemerintah tidak sekadar memberikan pernyataan normatif. Dibutuhkan langkah berani dan terukur, mulai dari penguatan cadangan devisa, pengendalian impor, hingga kebijakan yang benar-benar melindungi UMKM dan sektor riil. Jika tidak, kita sedang berjalan menuju krisis yang lebih dalam.”
Selain ancaman ekonomi, BEM PTNU Se-Nusantara memperingatkan bahwa pelemahan rupiah yang terus dibiarkan juga berpotensi memicu dampak sosial yang serius.
“Ketimpangan sosial akan semakin melebar, angka kemiskinan berpotensi meningkat, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah dapat tergerus. Ini bukan hanya krisis ekonomi, tetapi juga bisa berkembang menjadi krisis kepercayaan.”
Dengan kondisi rupiah yang terus tertekan, publik kini menantikan langkah nyata pemerintah, bukan sekadar retorika. Tanpa kebijakan yang tegas, terukur, dan berpihak kepada rakyat, pelemahan ini dikhawatirkan menjadi awal dari tekanan ekonomi yang lebih luas dan berkepanjangan.
Editor : DM








